Filosofi Dan Yohji Yamamoto

February 07, 2018

Today, I should have started my new collection. But I end up watching again (and again) some of Yohji Yamamoto interviews. Reading his philosophy is like drowning me to some beautiful strong energy, where I feel like I found myself through the journey. It is just like what he always says "Start copying what you love. Copy copy copy copy. At the end of the copy you will find yourself."
Membaca lagi banyak-banyak tentang nya membuat ku merasa perlu untuk melihat ke dalam diri ku sendiri. Aku ingat pernah mencermati tanda tangannya, yang juga menjadi logo brand nya. Dia adalah orang yang berjalan ke depan dengan menatap masa lalu. Filosofi yang berasal dari rasa suka dan tidak sukanya, begitu percaya diri dia sampaikan dan dia olah sebagai sebuah cita rasa. Hitam sebagai symbol "I don't bother you, don't bother me", begitu menohok ku sebagai seorang muslim. Ku kira, aku mendesain sesuatu yang sesuai dengan syariat agama ku ini. Tapi ternyata aku salah, jika aku masih menginginkan sebuah atraksi.
Yohji Yamamoto telah lama menginspirasi ku sebagai seorang desainer dengan identitasnya yang kuat. Aku menyukai karakter desain nya yang "ugly" yang menurut ku memberikan kebebasan. Bebas memakai apapun, selama kau menyuakinya, you wear it not to please anyone but yourself.
"At the very beginning, I just wanted women in men's style," he says. "Typically Japanese women were wearing imported and very feminine things and I didn't like it. I jumped on the idea of designing coats for women. It meant something for me - the idea of a coat guarding a home, hiding the woman's body. Maybe I liked imagining what is inside."
This idea is very similar to what Islam says about clothing. Pakaian adalah untuk menyamarkan diri mu dari sekeliling mu, untuk membuat mu merasa aman. Bukan menarik mu ke dalam pusaran perhatian, membuat mu menjadi diri mu sendiri, bukan menjadi apa yang orang lain inginkan untuk mereka lihat dari mu. Pakaian seharusnya menjadi pelindung mu, and that should be the role of a fashion designer.
"My role in all of this is very simple. I make clothing like armor. My clothing protects you from unwelcome eyes."
Banyak filosofi desainer timur yang menurut ku sangat dalam, dan hal tersebut kemudian sangat tergambar dalam karya mereka. Di timur, ada adat yang dipegang, ada kebiasaan yang diturunkan, ada paham yang dianut. Lalu sebagai seseorang yang memiliki itu, terkadang aku lupa, bahwa proses mendesain itulah yang ku sukai, yang ku kenal sebagai aktualisasi diri, yang seharusnya menjadi buah pikiran dan pemahaman. Mereka yang Timur itu, begitu kuat memegang kegemarannya. Memiliki karakter dan pendirian, sekalipun tampak aneh dan tak biasa.
Pada akhir pemikirian ku hari ini, ku temui bahwa Yohji dan kekuatan filosfinya telah mengantarkan ku untuk memikirkan kembali, apakah aku, sebagai seorang muslim, memiliki prinsip dan tujuan yang ingin ku sampaikan dalam setiap desain ku..
Fathia Pratiwi
Creative Director

Subscribe